Definitely, Maybe

September 24th, 2008 by theflyingzee

Menjelang lebaran gini selalu banyak orang2 dari masa lalu yang berseliweran di keseharian saya. Dan berhubung sebelumnya saya juga gak pernah baca review tentang film ini, jadi nya bener2 berasa dejavu ketika tau2 saya liat file film ini terselip diantara file2 video yang lain, dan kemudian memutarnya. Film ini emang bercerita tentang orang2 dari masa lalu, bagaimana kehidupan romantis Will Hayes sebelum mempunyai seorang anak perempuan yang cakep dan cerdas bernama Maya.

 

Semua bermula ketika Maya protes ke ayahnya, kenapa kok bercerai dengan ibunya, dan ujung2nya, sang ayah pun harus menceritakan cewek-cewek yang terlibat dalam kehidupan sebelum, termasuk dalam hal ini adalah ibu Maya. Ada 3 orang cewek yang deket dengan Will Hayes, dan semua nama disamarkan oleh WIll dengan tujuan agar Maya menebak yang mana cerita tentang ibu Maya dan kenapa semuanya berakhir seperti keadaan sekarang.

 

Cewek-cewek yang terlibat ini memang berbeda-beda karakter, satu adalah temen semasa sekolah yang manis, yang kedua adalah cewek cakep nan cerdas dan penuh percaya diri, dan yang ketiga adalah cewek yang easy going, tanpa beban dan go with the flow dengan hidupnya. Cewek pertama adalah kekasih pertama Will Hayes, namun harus putus karena tidak mau ikut Will Hayes yang pindah ke New York menjadi tim kampanye calon presiden Bill Clinton. Yang kedua menjadi kekasih Will dengan segala passionnya karena kecerdasan dan penuh percaya diri yang dimiliki oleh sang cewek. Yang ketiga tidak pernah menjadi kekasih Will, selama itu dia hanya berfungsi sebagai temen deket yang selalu berbagi cerita tentang apa yang mereka alami. Dimulai ketika pertama kenalan dan saling berbagi sinisme politik saat sama2 menjadi bagian dari tim kampanye calon presiden, dilanjutkan ketika sang cewek memenuhi impiannya untuk travelling dengan senantiasa mengirim kartu pos - kartu pos dari berbagai tempat yang dikunjungi sang cewek, sampai dengan menggelar pesta ulang tahun sederhana Will saat Will sedang bingung di persimpangan jalan hidupnya.

 

Akhir cerita film ini tentu saja tentang teka teki siapa akhirnya dari ketiga cewek itu yang ternyata bener2 menjadi pilihan hidup bagi Will dengan kondisinya sekarang ini yang sedang menghadapi perceraian dan memiliki satu anak cewek. Apakah menyambung kembali dengan istrinya (yang juga adalah salah satu dari 3 cewek yang diceritakan itu) atau meneruskan (atau menyambung kemabali) cerita dengan cewek lain dari 3 itu yang baru disadarinya ternyata lebih mengerti dan nyambung dengannya..

Wall-E

August 16th, 2008 by theflyingzee

Sekali lagi saya keliru soal filmnya pixar..
Ini kejadiannya persis seperti film Ratatouille dulu, bedanya kali ini gak bener2 ditinggalin dan cuman nonton di dvd, tapi masi dibelain nonton di bioskop..
Terus terang sebelumnya saya gak antusias nonton Wall-E,
I mean, apa sih yang menarik dari film soal robot pembersih sampah yang ditinggalkan di bumi oleh pembuatnya ? Apa coba yang bisa digali dari cerita soal robot pembersih sampah ? Kalo cerita soal mainan dan temen2 sih oke, cerita semut dan serangga2 lain tentu saja bikin penasaran, cerita soal monster2 aneh2 dan lucu juga asik, cerita ikan yang lagi nyari anaknya tentu saja menarik, keluarga superhero apalagi, dan rasanya cerita mobil di negara pengagung2 balapan mobil pasti menegangkan, soal tikus di perancis well.. keliatannya rada membosankan, tapi ternyata asik luarbiasa, tapi robot pembersih sampah ????
Dan sekali lagi saya harus kembali terkagum2 dengan Pixar soal kemampuan mereka mengolah cerita.. Kalo soal animation 3Dnya mah udah gak disangsikan lah.. Masalahnya sekarang bener2 adalah cerita. Kalo soal 3D sekarang mah saingannya udah banyak, dan kecuali para bagi para geek, kualitas 3D sekarang juga rasanya hampir hampir sama semua..

Hal pertama yang menurut saya menarik adalah, Wall-E ini dimata saya seakan2 adalah versi modernnya dari “motion comedy” semacam Charlie Chaplin atau Mr Bean. Gak ada kata dan bahasa, cuman karakter yang bergerak dengan cara-cara yang secara “sederhana” namun cerdas yang bisa menggerakkan emosi penontonya. Mostly sih tawa, tapi juga ada haru, romantis, dan berbagai emosi lain. Pixar emang sering bikin komedi hanya base on movement dari karakternya, tapi yang pernah dipublikasikan cuman sebatas short movie aja, dan kali ini mereka menerapkannya dalam full length movie. Emang setelah separuh film ada dialog yang terlibat, tapi tetep aja saya ngeliat porsi movement dari Wall-E dan EVE tetep sebagai penggerak utama cerita.

Ceritanya “ternyata” mengandung pesan soal lingkungan yang cukup klise, tapi tetep jadi concern yang cukup mengkhawatirkan hingga saat ini, yaitu soal sampah. Diceritakan bahwa manusia di bumi udah sedemikian desperatenya ngurusin sampah, sehingga mereka memilih untuk pack their bag, ALL of them, masuk ke dalam pesawat ruang angkasa raksasa, dan terbang ke galaxy laen, dan meninggalkan robot2 untuk membersihkan dan mengolah sampah yang mereka tinggalkan yang luaaar biasaaa banyak. Saking banyaknya sampai hampir menutupi sebagian besar dari permukaan bumi. Ide awalnya adalah, tinggal di pesawat ini adalah sementara, sampe semua sampah berhasil dibersihkan dan diolah oleh robot2 itu, dan mereka akan kembali lagi ke bumi dengan menghadapi bumi yang udah bersih dan siap mereka tempati lagi.

Namun sampah2 ini sedemikian banyaknya, sehingga sampe 700 tahun kemudian, disaat2 robot2 tersebut udah rusak semuanya (kecuali satu biji robot), tetep aja sampah masih tetap menggedung (bukan lagi menggunung..), karena oleh robot2 dengan kode Wall-E ini, sampah2 tersebut di kompres dalam bentuk kotak dan disusun2 hingga setinggi gedung pencakar langit. Karena tinggal satu robot aja di tengah2 gedungan sampah, saya jadi teringat2 dengan film I Am Legendnya Will Smith. Settingnya hampir sama, sendirian di tengah kota yang penuh sampah, kalo Will Smith ditemenin seekor anjing, Wall-E ini ditemenin oleh seekor kecoa. Well, saya kira ini untuk sekalian ngedukung teori Dr Suresh di serial heroes bahwa, jika bener2 terjadi petaka lingkungan dan evolusi di bumi, satu2nya mahluk hidup yang bisa survive adalah kecoak ^__^.

Anyway, 700 tahun kemudian di saat tinggal satu Wall-E di bumi, koloni manusia di pesawat ruang angkasa tadi mengirim robot dengan kode EVE ke berbagai belahan bumi untuk mencari satu bentuk kehidupan yang dipakai sebagai tolak ukur bahwa bumi telah merestore dirinya dari kerusakan lingkungan, dan berarti telah aman bagi mereka untuk kembali ke hidup kembali ke bumi. Robot2 ini tentu saja jauh lebih canggih dari robot Wall-E dan diasosiasikan sebagai robot dengan jenis kelamin cewek, yang tentu saja sebagai opposite dari Wall-E yang diset sebagai robot cowok. Salah satu robot ini akhirnya bertemu dengan Wall-E dan mengambil salah satu koleksi paling berharga dari Wall-E, yaitu sebuah bibit tanaman yang baru saja tumbuh, untuk dibawa ke pesawat koloni, dan mengabarkan kalo sebuah bentuk kehidupan telah berhasil survive di bumi setelah 700 tahun lamanya kabar itu tak terdengar. Saat EVE dijemput oleh pesawat roket untuk dibawa pulang ke pesawat koloni, Wall-E gak rela temennya itu dibawa pergi, sehingga dia pun ikut jadi penumpang gelap dalam pesawat roket itu menuju pesawat koloni. Dan disinilah cerita akhirnya mulai terkuak dengan berbagai macam realita imajiner tentang “bagaimana sih jika manusia terbiasa dilayani robot selama sekian generasi selama ratusan tahun dan gak pernah dengerin, merasakan, atau bahkan membayangkan sebuah tempat bernama bumi ?”

Pixar memang kembali mempertahankan reputasinya sekaligus menunjukkan kelasnya dengan kualitas yang bener berbeda dari film2 animasi produksi studio lain. Cuman emang sekali lagi, penonton indonesia menunjukkan “kualitasnya” lewat apresiasi mereka terhadap film2 pixar. Saya akui emang komedi dari film2 pixar emang rada “susah” dicerna oleh kebanyakan masyarakat indonesia ini. Belum lagi soal skeptisme soal -apa sih yang bisa diceritakan dari “film kartun robot sampah”- yang juga saya alami sebelum menyaksikan sendiri film ini. Akibatnya studio segede Studio I Sutos juga terasa rada melompong, melompong dari penonton, juga melompong dari tawa penonton yang gak sebanyak film blockbuster lainnya itu.

Kala Wanita Percaya

August 8th, 2008 by theflyingzee

Perjalanan hidup seseorang menurut saya adalah selalu menarik untuk disimak. Kita cuman bisa menjalani satu versi timeline kehidupan, dan dengan waktu yang berjalan kian cepat, belajar dari hidup yang kita alami sendiri kadang terasa begitu menguras waktu tersebut. Ini sebabnya saya selalu tertarik untuk belajar dari cerita hidup orang lain untuk paling tidak, bisa sedikit menambah dari sedikitnya hal2 yang harus saya alami sendiri.

Di lain pihak, mengungkapkan sebuah cerita hidup sendiri juga bukan merupakan sebuah hal yang mudah, apalagi jika cerita itu sedemikian berlikunya. Bercerita tentang kehidupan berantakan yang dialami adalah sebuah hal yang berat. Mengeluarkannya dari kepala dan mengubahnya menjadi tulisan adalah perjuangan, dan menerima reaksi dari pengeluaran itu, bahkan bila itu berupa hal positif seperti dorongan inspiratif, atau sekedar tepuk ringan di pundak, akan terasa begitu menyesakkan dada karena haru dan kadang membuat sumber air dimata tidak dapat menahan daya gravitasi alam.

Buku ini tentu saja bercerita tentang itu semua. Tentang 12 tahun perjuangan Audrey berjuang di tengah konflik keluarganya. Bagaimana Audrey dalam usia belasan tahun menjadi saksi dimulainya konflik ini, harus tetap menjalani masa2 remaja dengan penuh penolakan, berjuang menghadapi kehilangan sang Oma, satu dari dua wanita berpengaruh dalam hidupnya, harus terus menghadapi kerasnya sang Papa dalam segala hal, bahkan dalam satu fase terpenting dalam perkembangan sang anak, yaitu pendidikannya, dan tentu saja saat harus mengikuti roller coaster menyesakkan bersama wanita terdekatnya saat ini, sang Mama.

Audrey menyajikan semua hal itu dengan jalinan sentral dari hubungan 3 wanita beda generasi di keluarganya, Audrey, sang Mama, dan Omanya. Bagaimana perjuangan Oma untuk mendidik dengan cara memberi contoh langsung kepada kedua generasi wanita dibawahnya, sang anak dan cucunya ini untuk tak berhenti berjuang dan percaya, di tengah segala keruwetan yang dipicu oleh sang Papa, dan diwarnai dengan kondisi Oma sendiri yang telah berumur, juga kondisi Mama dengan begitu banyak penyakit dalam yang menderanya.

Namun serangkaian tanda kekuasaan sang Pencipta telah mampu membuat Audrey dan sang Mama tetap bertahan dan terus bangkit, yang pada akhirnya semua itu membuat kehidupan Audrey dan keluarganya semakin membaik. Dan 12 tahun dalam ombang ambing kerasnya kehidupan tentulah menjadi sebuah cerita hidup yang sungguh mampu memberikan banyak pelajaran dan mengangkat motivasi banyak orang yang mau membaca dan mendengarkannya. Audrey juga mampu menyajikan ceritanya dengan sederhana namun tetap bermakna dalam. 140 halaman buku kecil adalah ukuran yang reliable untuk masyarakat di sebuah negara dengan minat baca yang tidak terlalu tinggi. Ukurang tersebut juga sangat memungkinkan untuk dibaca berulang2 sesuai dengan pesannya sebagai sebuah cerita inspiratif bagi pembacanya.

So.
Audrey is my dearest friend…,
dan oleh sebab itulah fakta bahwa Audrey menulis sebuah buku bernafaskan keTuhanan Kristiani sesuai keyakinannnya tidaklah menghalagi saya untuk beli (yes…, aku beli loh..:P) dan baca bukunya..
dan saya begitu bangga dengan temen saya yang satu ini sekaligus ngiri karena dah bisa buat buku sementara saya cuman bisa ngereview doang..^_^
dan saya juga pengen minta maaf dengan tulus kalo saya pernah “berani-beraninya” ngasih nasehat..
apa yang saya alami sepanjang hidup tidaklah sampe secuil dari apa yang kamu alami, so how dare me lecturing you ho to live…
keep up the good work and the good live sis, ditungguin yah buku berikutnya ^__^..

The Dark Knight

July 19th, 2008 by theflyingzee

Christopher Nolan lagi2 berhasil bikin sebuah film tentang Batman yang bener2 berkelas. Saya harus mengkoreksi pernyataan saya di sebelum2nya tentang jangan sekali2 memasukkan terlalu banyak karakter dalam satu film superhero karena ternyata, Christopher Nolan melakukannya… dan melakukannya dengan baik sekali.

Ketika ditanya temen setelah nonton film ini, apa sih bagusnya. Dan agar film ini terdengar begitu bagus, jawabannya harus bener2 singkat, karena di film ini terdapat banyak sekali karakter, banyak sekali plot, banyak sekali twist, dan semuanya bisa beres dengan baik di akhir film, tanpa ada yang “dipaksa” beres atau “ditunda-tunda” beresnya.

Karena sedemikian banyaknya karakter dan plot tersebut, maka film ini tidak hanya untuk dilihat, tapi juga harus “dibaca”, kemana plot2 itu lari dan saling berhubungan sehingga bisa membentuk sebuah klimaks yang utuh di akhir film.

Plot cerita memang menjadi kekuatan utama, tapi tentu saja semua itu tidak lepas dari pembawaan karakter2nya. Semua bener tampil maksimal, dengan catatan khusus tentu saja ada pada karakter Joker. Layak kalo mendiang Heath Ledger harus banyak minum penenang karena Joker disini bener2 tampil sinting. Dan dengan hampir semua elemen kunci dalam konflik dan plot dipegang oleh Joker, maka karakter Joker bener2 harus ditampilkan semaksimal mungkin, dan Heath Ledger bener memberikan nyawanya untuk itu.Heath bisa membawakan gerak gerik cuek Joker, mimik2 psycho dan mengerikan, dan meskipun logat asli Heath bersuara berat, ternyata suara khas Joker ala anak kecil, dan tentu saja yang lebih membuat suasana psycho adalah, cara tertawa ala Joker.

Secara sederhana plotnya utamnya berjalan sebagai berikut :
- Batman as a role model, akibatnya banyak copycat batman yang disatu sisi bikin para mafia repot, tapi disisi lain juga bikin batman dan para polisi repot
- Letnan/Komisaris Gordon, wakil dari pihak berwenang yang semakin pontang panting dengan merajelalnya mafia dengan kegiatan kejahatan dan pencucian uangnya. Batman adalah kepanjangan tangan Gordon untuk mencapai tempat2 dimana birokrasi dan aturan baku tidak sepantasnya menyentuhnya. Ini membuat karakter Batman semakin lekat dengan outlaw, dalam artian dia pun sebenernya sama tidak terjangkaunya dengan hukum sebagaimana mafia2 tersebut
- Harvey Dent sebagai Jaksa Wilayah dengan reputasi bersih dalam membasmi para pelanggar hukum, membuat dia menjadi sosok yang pantes menggantikan batman sebagai pahlawan pembasmi kejahatan gotham karena dengan sepak terjangnya lah secara hukum dan sesuai aturan, para penjahat tersebut bisa dijebloskan dalam penjara
- Dan kemudian datanglah Joker mengacau keadaan. Joker adalah murni penjahat sinting dengan tanpa tujuan lain selain mengacau, hanya karena dia bisa. Joker tidak butuh duit. Yang dibutuhkannya hanyalah kekuasaan dan itupun dengan satu tujuan, untuk mencari lawan yang mau memberesi kekacauan yang dibuatnya hanya agar dia bisa membuat kekacauan lagi yang lebih besar.
- Joker kemudian membuat twisted plan (hence the quote by him : “Is all… part of the plan..”) mengacau Gotham dengan membuat warganya saling mengacau dan bertengkar satu sama lain, dan dalam menuju kesana, sekalian membuat pahlawan baru Gotham, Harvey Dent, menjadi salah satu bagian dari pembuat kekacauan.
- Harvery Dent memang berhasil “diubah” Joker menjadi the twisted TwoFace, namun Gordon dan terutama Batman, tidak rela untuk ikut begitu saja skema yang dibuat Joker. TwoFace memang mengacau, tapi hanya Gordon dan Batman yang tau. Untuk itu Batman rela menjadi kambing hitam. Gordon pun mengumumkan bahwa Harvey Dent menjadi korban Joker dan Batman, dan tetap akan dikenang sebagai pahlawan Gotham, Ksatria Putih yang mengorbankan segalanya untuk membasmi para penjahat. Dan dengan hati pedih, Gordon secara simbolis menghancurkan lampu bersimbol kelelawar yang biasa digunakan memanggil Batman. Batman pun tetep berkeliaran di jalan, sebagai Ksatria Hitam (Gelap), mengejar2 penjahat sekaligus dikejar-kejar oleh karena dianggap mengacau dan berada di luar hukum.
Jadi kalo dipikir2, si Christopher Nolan dan tim penulis ceritanya ini sengaja menjadikan judul film sebagai tujuan akhir film. Di Batman Begin, di akhir film baru mantap dimulainya petualangan Batman, dan yang terbaru ini, The Dark Knight, Ksatria Gelap adalah apa yang Batman harus jalanin setelah film selesai (atau di sequel berikutnya.. let’s cross our finger..)

Dan itu cuman plot utama, ada plot2 sampingan seperti hubungan segitiga Bruce-Rachel-Harvey yang ditampilkan proportional dan tidak terlalu mellow, ada plot Letnan (dan kemudian dianggkat menjadi Komisaris) Gordon dan keluarganya, plot Joker vs Mafia vs Lau, akunting mafia yang menyembunyikan duit mafia, plot Bruce-Lucious Fox yang gak rela teknologi yang dibuatnya dipakai semena2 oleh Batman, plot Bruce-Alfred-Rachel soal siapa yang dipilih oleh Rachel, plot masyarakat kota vs Batman, dan tentu saja plot Joker secara pribadi yang benar2 sinting..

Dan seperti saya bilang, semuanya bisa beres setelah dicampur aduk selama 2.5 jam, dan bahkan masih mampu menyisakan plot ngegantung secara apik, dimana plot ngegantung ini justru adalah judul dari film ini, Batman begin his life as…. The Dark Knight !

Wanted

July 17th, 2008 by theflyingzee

Ternyata saya salah itung soal film2 yang diadaptasi dari komik untuk tahun ini. Wanted lolos dari itungan, padahal ini diambil dari salah satu serial komik bikinan Mark Millar. Dan keasyikan nonton wanted ini pun juga sama dengan keasyikan membanyangkan action kalo baca sebuah komik.
Wanted bener2 menampilkan action dan jalan cerita yang komikal. Full action heboh sepanjang film dengan tak lupa memberi sedikit sentuhan drama yang cukup klise, namun gak sampe bertele2.

Ceritanya sih seorang pemuda culun yang kemudian direktur oleh The Fraternity untuk dilatih menjadi pembunuh, dengan tujuan membunuh salah seorang mantan anggota mereka yang keluar dari perkumpulan. Dari konflik awal itu nantinya cerita berjalan. Cerita tentang asal usul pemuda itu, tentang orang yang harus dibunuhnya, dan tentang The Fraternity itu sendiri.

Cuman emang catatan khususnya kalo mo nonton film ini adalah, ilmu fisikanya ditinggal di pintu depan aja. Hampir semua action paling cuman sedikit melibatkan ilmu gravitasi aja (gak ada yang sampe terbang2 kaya crounching tiger soalnya), variable laen cenderung diabaikan. Mobil yang terbalik balik di udara, diatas bus, atas simply melayang di atas mobil laen, peluru yang saling bertumbukan, peluru dengan design khusus, sampe dengan yang seakan jadi trademark film ini, the bending bullet, baik yang cuman bending jalur 30 derajat, atau bending full circle..

Tapi ya semua itu sebenernya kan sama imajinatifnya dengan panda yang bisa kungfu, ilmuwan berubah jadi raksasa hijau, manusia kaleng full amunisi bisa terbang, orang bisa pindah tempat seenaknya, balap mobil di jalur permen, dan sederet kisah imajinatif laennya. Jadi ya enjoy the

Hancock

July 6th, 2008 by theflyingzee

Bikin film dengan tokoh utama orang dengan kekuatan super memang susah..
Yang utama kalo menurut saya seh karena penontonnya gimanapun masih menuntut sebab2 knapa kok dia jadi super. Yaa mungkin karena pada dasarnya (meskipun dalam khayalan yang paling liar..) kita pengen ngerasaain itu kekuatan super juga, gak usah buat save the world seh, paling nggak ya lumayanlah buat meringankan kesibukan sehari-hari. Jadi dengan tahu sebab kenapa dia jadi super, maka mungkin terbuka juga (sekali lagi, dalam khayalan yang paling liar) kesempatan untuk menjadi seperti jagoan superpower tersebut. Karena susah memberikan sebab kenapa jadi super itu tadi, filmmaker sendiri biasanya lebih suka tinggal comot dari komik atau novel buat bikin film tentang superheroes.

Dan sayangnya, salah satu sebab film ini cuman dapet bintang 2 karena gak gitu sukses menyampaikan background dari seorang superhero bernama Hancock.

Dari awal sebenernya lumayan oke, karakter tentang seorang superheroe cuek yang ditampilkan oleh will smith bener2 ngasi joke yang bikin ketawa. Kalo mau sih, sebenernya gak perlu mengusik2 tentang sebab kenapa kok bisa dapet kekuatan super, dan ngejalanin plot cerita dari tingkahnya si Hancock. Tapi ternyata penulis skenarionya akhirnya tergoda juga menampilkan itu dan jadinya malam amburadul. Too many conflick dan gak gitu orisinal juga.

Cerita soal superhero Hancock ternyata mirip2 dan hampir sama dengan cerita highlander ataupun Jumper. Manusia dengan kekuatan ala superman ini dah ada sejak dulu dan mereka immortal. Satu2nya yang bisa membunuh mereka adalah justru kedekatannya dengan pasangan mereka. Bila manusia2 super immortal ini ketemu pasangannya dan menikah, maka kekuatan super mereka akan hilang dan mereka juga bisa menjadi tua dan meninggal. Hancock sebenernya juga dah punya pasangan hidup ini, namun karena terjadi insiden, Hancock cedera parah dan ingatan tentang jati diri dan asal usulnya jadi hilang. Pasangannya pun pergi meninggalkannya karena Hancock tidak mengenalinya. Dan dengan ditinggal menjauh oleh pasangannya, kekuatan super Hancock pun kembali lagi, sembuh dari cederanya dengan cepat, namun tanpa ingatan dan akibatnya gak bisa paham kenapa kok dia bisa melakukan apa yang bisa dia lakukan.
Semua ini disajikan setelah film berjalan separauh, sehingga tampak terlalu cepat dan akibatnya, mood superheroes bling-bling cuek nan lucu yang dibangun dari awal jadi berantakan…

Sebenernya, pas film dimulai, saya juga berharap ada konflik tambahan selain daripada plot Hancock superheroes ngasal yang kemudian jadi baek dan menyelamatkan dunia. Cuman kok ternyata konflik tambahannya ini malah menhancurkan cerita yang udah dibangun separuh jalan..

The Incredible Hulk

July 3rd, 2008 by theflyingzee

Hulk edisi yang ini boleh dibilang restart dari Hulk edisinya Ang Lee. Semua apa yang disajikan Ang Lee dalam 2 jam lebih di tahun 2003 lalu ditampilkan hanya dalam waktu kurang dari 5 menit dalam potongan2 sequence di awal film, berbarengan dengan casting title. Sehingga, ketika film bener2 dimulai, Bruce Banner yang kali ini dibawakan oleh Edward Norton telah berada dalam pelarian di Brazil.

Secara overall memang Hulk kali ini lebih terasa menarik dari versi punya Ang Lee. More action dan karena itu, more entertaining. Meskipun memang dari sisi cerita tidak semulus Iron Man, dalam arti, masih ada beberapa bagian mendekati akhir film yang agak2 membosankan.

Bagian awalnya bener2 keren though. Visual kota padat brasil yang seperti Minas Tirith sekian ribu tahun kemudian setelah penduduknya berkembang biak dan tambah rumah buanyaak menjadi salah satu penyajian yang menarik. Selain itu dimaenkannya salah satu soundtrack khas mellow dari Hulk edisi TV ke dalam film ini. Visualisasi Hulk dan Abomination juga lumayan meskipun emang gak sampe level topnotch. Dan pertempuran keduanya yang terjadi di jalanan New York (there is no better place buat nempatin 2 raksasa bertarung selain di padatnya jalanan New York..) pun juga masi menarik disaksikan. Dan visual paling menarik tentu saja adalah Liv Tyler dengan kacamatanya….She looks so great yet so smart dengan kacamata itu…:D

Ada 4 kejadian yang bikin saya ngakak gradually dalam film ini. Pertama adalah ketika Bill Bixby, pemeran David Bruce Banner dalam serial TV hulk, yang diperlihatkan tampil dalam salah satu episode rerun dalam TV yang sedang dilihat oleh Bruce Banner. Kedua adalah Stan Lee, yang tampil sebagai orang tua yang keracunan minuman botol yang terkontaminasi darah Bruce Banner.. Yang ketiga adalah ketika ngeliat Lou Ferrigno (yang jadi Hulk dalam Hulk versi TV) yang (sekali lagi) jadi satpam universitas dimana Bruce Banner hendak menyusup didalamnya untuk ngambil datai expreimen radiasi gammanya.

Yang bikin ngakak paling keras dan terakhir adalah adegan di ujung film ini, dimana Jend. Thaddeus Roos lagi mabuk2an di bar pasca pertaungan Hulk dengan Abomination. And what do you know, pas Jend. Roos mabuk2an ini, ada orang perlente yang ngedatengin dan ngajak kersama bernama Tony STARK !! Sayang orang sak bioskop gak ada yang mo sharing moment ini bersama saya, sehingga hanya tawa ngakak saya diiringi sedikit omelan dari penonton laen yang ada menghiasi adegan penutup dalam film ini..:)

Indiana Jones and The Kingdom of Crystall Skull

May 22nd, 2008 by theflyingzee

Indiana Jones adalah salah satu kenangan terindah dalam pengalaman berbioskop saya. Bener2 menyenangkan saat mengikuti teka-teki dan liku-liku jebakan plus balapan dan pertempuran Indy dengan NAZI atau suku pedalaman dalam misinya mendapatkan artefak untuk keperluan ilmu pengetahuan. Dan tentu saja ketika diajakin buat nonton Indy terbaru ini saya ya langsung oke2 aja. Cuman ya sedikit berasa lucu aja ketika ternyata ada peserta nonton yang nanya, film Indiana Jones itu modelnya kaya gimana ya ? Dan yang laen pun sama ngeblurnya kalo disuruh ngejawab. Yang bisa ngejesin gimana2nya juga ternyata nonton Indiana Jones 1-3 cuman dari TV aja. Damn i’m old..! ^__^

Indiana Jones memang film warisan dari masa lalu. Tapi Indiana Jones yang terbaru ini adalah bener2 sekuel dari sebelumnya, bukan remake. Orang2nya pun masi sama. George Lucas sebagai produser dan penulis cerita, Harrison Ford sebagai Indy, dan tentu saja om Spielberg yang mau turun bentar dari “tahta”nya buat kembali duduk di kursi sutradara. Namun sayangnya, ternyata orang2 lama ini justru membuat Indy terbaru masih berada di masa lalu..

Dunia film memang telah berkembang jauh. Kalo dulu sepak terjang Indy yang disupport dengan efek2 jebakan2 yang melibatkan benda2 artefak eksotis nan megah, kejar2an liar dengan kapal, kuda, jip, atau tank bener2 terlihat begitu menarik, tidak demikian ketika hal tersebut diperlihatkan di jaman ketika visualisasi efek 10.000 Orc, Uruk Hai dan sekutunya bertempur dengan manusia di Minas Tirit, atau gedung2 pencakar langit hancur dihajar meteor, monster, atau sekelompok robot raksasa jadi hal umum di layar bioskop. Gak tau ini salahnya Spielberg yang terlalu lama duduk sebagai executive produser atau George Lucas yang terlalu terobesesi dengan Star Warsnya. Kedoyanan Spielbert ngambil angle2 yang artistik jadi terasa biasa aja (dalam konteksnya dengan film action) ketika penonton telah terbius oleh gaya hancur lebur dan angle dan movement hiperbolis Michael Bay, atau Roland Emmerich. Cerita George Lucas pun juga bernasib sama ketika harus bersaing dengan script writer2 baru yang menghasilkan film2 bernada petualangan pencarian artefak ala Indy seperti Tomb Raider atau National Treasure. Bahkan joke2 yang dulu bikin ngakak pun sekarang terasa agak2 garing. Dan yang lebih bikin film ini terasa soo yerterday, adalah endingnya.

Setelah alur cerita dan petualangan yang disusun sedemikian semangatnya dari awal itu mulai terasa klimaks, ternyata ketahuan kalo semua kerepotan ini disebabkan oleh ALIEN… WTF !! Alien was soo ninety’s gituloh. Ya emang di masa itu Spielberg dan George Lucas lagi jaya2nya, tapi bukan berarti cerita dari masa itu juga diterapin sekarang. Jaman2 dimana kalo dah bingung bikin ending cerita, tinggal langsung aja salahkan semuanya pada alien.
Belum lagi bentuk aliennya yang juga standard banget. Sama persis dengan deskripsi alien di masa-masa alien menjadi ngetop. Saya hampir aja langsung tereak kecewa di bioskop ketika di film ini dah ketahuan kalo hendak melimpahkan semua kesalahan pada alien

Tapi ya paling gak bagi saya, masi ada elemen nostalgia dari film Indiana Jones ini, terutana dari theme songnya yang khas. Juga bagaimana Spielberg mewujudkan kembali suasana kota ditahun 50an dengan segala asesoris dan perlengkapan vintagenya.

Oh.., dan kali ini, gak ada barang2 saya yang berhasil meloloskan diri dari kantong celana. Gimana nggak, wong semuanya dah ditaruh di kantong kecil di duffle bag ^_^

Tanda-tanda

May 19th, 2008 by theflyingzee

3 kunjungan ke bioskop terakhir selalu saja ada barang saya ketinggalan.

Yang pertama pas nonton Forbidden Kingdom. Setelah film berakhir seperti biasa nunggu bentar buar agak sepi jalur keluarnya. Abis itu langsung berdiri dan jalan. Belum sampe dua langkah langsung dipanggil Jeffry, temen nonton bareng, sambil nyodorin kunci motor saya. Ternya kunci ini jatuh dari kantor, dan tertinggal di kursi tempat saya tadi duduk. Tentu aja saya langsung bernafas lega.

Minggu depannya, pas nonton Iron Man, terjadi kejadian yang hampir sama. Setelah jalur keluar sepi, saya langsung berdiri dan langsung jalan. Kali ini Fifa yang manggil, nunjukin karcis parkir saya yang jatuh di tempat duduk. Dan pas waktu saya bilangin kalo minggu lalu kejadiannya sama, Fifa langsung bilang kalo gak ada yang kebetulan, musti ati2 loh dengan adanya tanda2 ini. Ok then, duly noted.

Hari sabtu kemaren nonton Prince of Caspian, dan kali ini saya bener2 merhatiin kata2nya Fifa. Sesudah film habis, sambil nunggu jalan sepi, saya gak langsung berdiri, tapi ngecek saku saya. Dan ternyata, handphone saya tidak berada ditempatnya ! Langsung aja saya cek kursi saya, dan handphone masi belum juga diketemukan. Baru setelah ngelongok ke kolong kursi, terlihat handphone saya ternyata ada di sana, fiuhh..! Setelah diambil, dan kali ini cek dan ricek semua saku celana, baru saya jalan keluar.

Semoga cuman ini aja hasil dari tanda2 dua kejadian terdahulu, gapake nambah kejadian2 laen..^_^

Life of Pi

May 19th, 2008 by theflyingzee

200pxlifeofpi
Sekali lagi dapet rekomendasi dan pinjeman dari temen, kali ini bukan dvd, tapi buku cerita soal anak 16 tahun yang harus bertahan selama 7 bulan di sekoci bersama seekor harimau di tengah lautan. Waktu dapet bukunya dan liat covernya, kok modelnya kaya buku sastra yah ? Apalagi ada embel sebagai pemenang “The Man Booker Prize” yang saya kira juga sebagai sebuah penghargaan buku sastra, malah jadi semakin males. Pengalaman terakhir baca buku sastra model Laila Majnun dengan bahasa “berbunga-bunga” jadinya malah sering ketiduran daripada menikmatinya. Akibatnya buku ini juga sempet lama nganggur, selain dari sebab diatas juga karena pas mo baca juga pas lagi capek banget, jadinya juga sering lewat aja.

Ternyata setelah dibaca di bab2 awal, buku ini ternyata menarik. Diceritakan dengan model frame narrative dimana, ada 2 karakter yang membawakan cerita dari sudut pandangnya. Satu tentu saja adalah Piscine Molitor Patel, yang minta dipanggil dengan nama Pi Patel, sang tokoh utama. Sedangkan satunya lagi karakter penulis, yang berkeliling india untuk menemui Pi Patel tua dan memintanya bercerita tentang pengalamannya kala sendirian di tengah lautan bersama seekor harimau bengal ketika umur 16 tahun. Di awal buku bahkan dibuatkan catatan khusus dari penulis ini tentang awalnya kenapa dia menemui Pi Patel untuk menulis tentang ceritanya. Bahkan sepanjang bagian pertama cerita, disispin bab2 dengan tulisan italic yang merupakan catatan2 dari penulis ini.

Di beberapa review dan promo tentang novel ini disebutkan juga bahwa novel ini juga memberikan motivasi tentang keTuhanan. Dan meskipun memang ini bukanlah novel religius atau sebuah cerita yang penuh dengan komunikasi antara Tuhan dan umatnya, memang ada beberapa bagian yang mendeskripsikan bahwa Pi bisa bertahan karena keyakinannya terhadap Tuhan. Saya sendiri sebenernya melihat itu bukan sebagai elemen utama yang menjadi kekuatan dari novel ini. Namun memang ada beberapa hal2 unik soal keTuhanan yand disampaikan dalam buku ini. Yang utama adalah, Pi Patel adalah seorang anak yang religius, saking religiusnya dia adalah seorang pemeluk agama Hindu, Kristen, dan Islam secara bersamaan. Dia ikut upacara keagaaman Hindu, rajin datang ke gereja untuk misa, dan tak lupa untuk shalat Jum’at ketika waktunya tiba. Bahkan ketika dia terapung2 di laut, ritual keagamaan itu tetap masuk dalam kegiatannya sehari2.

Kekuatan utama novel ini bagi saya adalah kemampuannya untuk menceritakan hal2 detail tentang binatang dan hal2 yang berkaitan dengan sekoci penyelamat secara subtle. Bagian pertama yang menceritakan tentang kehidupan Pi di India sebagai seorang anak dari pemilik Kebun Binatang. Disiini dideskripsikan bagaimana sudut2 kebun binatang, bagaiamana prosedur2 perawatan untuk masing2 binatang, dan bagiamana pandangan2 Pi dan ayahnya tentang kondisi kebun binatang mereka dan tentang binatang2 itu sendiri tentu saja. Bagian ini kurang lebih mengambil sepertiga porsi dari cetita keseluruhan. Bagian kedua barulah bercerita tentang karamnya kapal yang ditumpangi Pi dan keluarganya menuju Canada dan bagaimana Pi akhirnya selamat dengan menumpang sekoci kapal selama 227 hari di tengah lautan. Pi yang semula adalah seorang vegetarian dipaksa untuk beradaptasi hingga harus bertahan hidup dengan makan ikan2, penyu, dan kepiting2 mentah hasil tangkapannya. Belum lagi bahwa Pi harus hidup di rakit darurat buatannya yang ditambatkan dengan tali ke sekoci pada awal2 dia terjebak di laut karena ada harimau besar yang juga selamat dari kapal dan menumpang dalam sekoci tersebut.

Waktu baca sinopsis singkat di sampul belakang buku sih saya kira ini sekoci kecil. Ya maklumlah, pengalaman saya naek kapal dan melihat sekoci hanya terbatas pada kapal2 penyeberangann Surabaya - Madura dan Banyuwangi - Bali aja soalnya. Tapi ternyata sekoci yang ditumpangi Pi ini cukup besar dan dilengkapi dengan locker berisis barang2 untuk kebutuhan darurat.

Meskipun saya agak sepakat dengan orang2 Jepang dalam novel ini yang menganggap bahwa ada bagian2 yang rada2 aneh dalam cerita Pi ini, seperti bertemu dengan orang berlogat perancis yang juga terkatung2 pada sekocinya, atau bertemu pulau gangang yang menyaring airlaut menjadi airtawar pada siang hari tapi menjadi menyebarkan cairan asam pada malam hari. Tapi overall emang novel ini ternyata mampu mengalihkan perhatian saya dari screen monitor dan televisi (meskipun bacanya juga kadang disambi nonton thomas dan uber cup ^_^)